Yuliana Teet adalah perempuan berumur 28 tahun. Dia berkata, kampung Omon bukan sekadar menghadapi persoalan kesehatan, tapi juga masalah tentang bertahan hidup.
Tanpa puskesmas dan tenaga medis tetap, Yuliana menyebut dia dan warga Omon harus berjalan berjam-jam menembus hutan untuk berobat. “Kami harus jalan ke Kampung Bangai,” ujarnya.
Namun perjalanan menuju Bangai tidak mudah, termasuk untuk warga Omon yang telah hidup turun-temurun di kawasan hutan. Jalur berlumpur, sungai yang meluap, hujan deras, hingga duri dan lintah di merupakan risiko yang harus mereka hadapi, termasuk saat membawa anak-anak yang sakit. “Biar hujan, biar air banjir, kali besar banjir, kami harus jalan,” ujarnya.
Menurut Yuliana, malaria adalah penyakit yang paling banyak diderita warga Kampung Omon, terutama anak-anak. “Yang terkena malaria, kalau terlambat berobat, mereka langsung seperti kerasukan,” kata Yuliana.
Merujuk pengamatannya, kondisi anak-anak yang mengidap malaria bisa memburuk dengan cepat. Dalam situasi itu, kata Yuliana, berjalan melewati hutan menuju Bangai bukan lagi pilihan, tapi keharusan. “Kami harus jalan. Jalan ke sana hanya untuk pergi berobat saja supaya kami tidak mati,” tutur Yuliana.










