Resni Soviyana dari Madani Berkelanjutan, di Panorama Cafe, Jumat (06/02/26) mengatakan, Indonesia selaku negara kepulauan menduduki peringkat negara ke-3 dengan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim tertinggi di dunia.
Dampak perubahan iklim tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berimplikasi langsung pada aspek ekonomi dan sosial, termasuk terganggunya mata pencaharian masyarakat, menurunnya ketahanan pangan, serta meningkatnya risiko terhadap kesehatan.
Diungkapkan, dalam 15 tahun terakhir, kemunduran garis pantai di Maluku mencapai 24,178.15 ha, yang mengancam keberlanjutan permukiman dan ruang hidup masyarakat pesisir serta pulau-pulau kecil.
Menurutnya, perubahan ini menimbulkan kelelahan fisik, gangguan kesehatan, dan tekanan sosial bagi masyarakat terdampak. Namun, dampak perubahan iklim menimbulkan kerugian material dan nonmaterial bagi masyarakat, namun beban kerugian tersebut tidak terdistribusi secara adil.
”Perspektif keadilan iklim, kelompok masyarakat yang kontribusinya paling kecil terhadap emisi gas rumah kaca justru menanggung beban dampak yang paling besar. Nelayan tradisional, masyarakat adat, perempuan, penyandang disabilitas, lansia, serta komunitas di pulau-pulau terluar pada dasarnya telah menghadapi keterbatasan sosial, ekonomi, dan akses layanan dasar sebelum krisis iklim terjadi,” ujarnya. (AM-29)










