Mengutip BBC Indonesia, di sisi lain, hampir semua rumah di kampung itu tak memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Warga harus berjalan sekitar 100 meter menuju sungai untuk buang air besar maupun untuk kebutuhan sanitasi lainnya. Sungai yang sama juga digunakan untuk mandi dan mencuci.
Pada kunjungan mereka ke Omon pada Juni 2024, 29 warga Omon mengidap malaria. Ada pula 20 orang yang terkena ISPA dan 10 orang mengalami diare. Tren penyakit pernapasan kembali muncul pada September 2024, ketika ISPA menjadi kasus terbanyak dengan 15 pasien, sementara gastritis tercatat 10 kasus dan malaria 5 kasus.
Memasuki tahun 2025, variasi penyakit yang ditemukan di kampung ini semakin beragam. Pada Mei 2025, ISPA kembali menempati posisi teratas dengan 15 kasus, disusul asam urat sebanyak dan gastritis, masing-masing 8 kasus. Namun kunjungan medis Desember lalu, 21 warga Omon tercatat mengalami malaria.
Ruth dan rekan-rekannya menemukan 14 kasus ISPA, 8 kasus infeksi kulit, 5 kasus gangguan pencernaan, 3 kasus hipertensi, dan 2 kasus anemia. Ruth dan komunitasnya saat itu memeriksa 75 orang, jumlah terbanyak sejak pelayanan kesehatan dilakukan di Kampung Omon. (*)










