“Waktu itu mereka pikul satu orang dengan tandu untuk turun ke Bangai agar bisa dapat pelayanan dari kami,” ujarnya.
Bagi Ruth, peristiwa itu menjadi penanda bahwa Omon benar-benar terputus dari layanan kesehatan. “Itu sangat miris,” ujarnya. “Saya sebagai anak Papua, ketika melihat orang Papua tidak dapat layanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan itu sangat menyayat hati,” tuturnya.
Lewat profesinya, Ruth melihat bagaimana akses kesehatan merupakan kemewahan bagi banyak orang asli Papua.
Ironi itu, kata dia, tampak pada nasib komunitas Elseng di Kampung Omon, yang merupakan bagian dari provinsi dan kabupaten paling tua di Tanah Papua. Situasi di Kampung Omon, menurut Ruth, seharusnya membuka mata semua orang, terutama para pejabat negara. “Orang sakit, pikul turun ke bawah, ke puskesmas, mati di tengah jalan. Mau bawa pulang, bagaimana? Kubur di tengah hutan,” ujarnya. “Ibu-ibu hamil melahirkan, tidak ada tenaga kesehatan. Melahirkan sendiri di rumah.”
Sebagai dokter, pengalaman itu meninggalkan luka batin yang dalam. “Saya terpukul sekali,” kata Ruth. Merujuk data medis timnya, Ruth menyebut malaria dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan di Kampung Omon.










