BeritaDaerahFEATUREInternasionalKesehatanNasionalUtama

‘Tidak ada tenaga kesehatan, ibu-ibu melahirkan sendiri di rumah’

21
×

‘Tidak ada tenaga kesehatan, ibu-ibu melahirkan sendiri di rumah’

Sebarkan artikel ini
Ester Ruth Yoteni (tengah) bersama rekan pekerja medisnya menyeberang sungai sebelum tiba di kampung Omon - Ikbal Asra

“Waktu itu mereka pikul satu orang dengan tandu untuk turun ke Bangai agar bisa dapat pelayanan dari kami,” ujarnya.

Bagi Ruth, peristiwa itu menjadi penanda bahwa Omon benar-benar terputus dari layanan kesehatan. “Itu sangat miris,” ujarnya. “Saya sebagai anak Papua, ketika melihat orang Papua tidak dapat layanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan itu sangat menyayat hati,” tuturnya.

Lewat profesinya, Ruth melihat bagaimana akses kesehatan merupakan kemewahan bagi banyak orang asli Papua.

Ironi itu, kata dia, tampak pada nasib komunitas Elseng di Kampung Omon, yang merupakan bagian dari provinsi dan kabupaten paling tua di Tanah Papua. Situasi di Kampung Omon, menurut Ruth, seharusnya membuka mata semua orang, terutama para pejabat negara. “Orang sakit, pikul turun ke bawah, ke puskesmas, mati di tengah jalan. Mau bawa pulang, bagaimana? Kubur di tengah hutan,” ujarnya. “Ibu-ibu hamil melahirkan, tidak ada tenaga kesehatan. Melahirkan sendiri di rumah.”

Baca Juga  Lulusan SMA/SMK 3,28 Juta Capai 35% dari Total Pekerja

Sebagai dokter, pengalaman itu meninggalkan luka batin yang dalam. “Saya terpukul sekali,” kata Ruth. Merujuk data medis timnya, Ruth menyebut malaria dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan di Kampung Omon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Program Pelatihan Vokasi Nasional juga dirancang untuk memberikan skilling, upskilling, dan reskilling kepada para peserta, dengan mengedepankan prinsip link and match. Prinsip itu memastikan keselarasan kuat antara…