Ia berbicara tentang demokrasi, tentang kesetaraan, tentang hidup bersama di tengah perbedaan. Di dunia politik yang keras, itu bukan pilihan mudah.
Rivlin tidak membangun citra sebagai “yang paling kuat”. Ia membangun warisan sebagai yang tetap berdiri saat yang lain goyah. Dan ketika masa jabatannya berakhir pada 2021, ia tidak meninggalkan kekuasaan besar.
Ia meninggalkan sesuatu yang lebih langka, kepercayaan. Hari ini, posisinya diteruskan oleh Isaac Herzog, namun jejak Rivlin tetap tertinggal.
Sebagai pengingat: bahwa tidak semua pemimpin harus berteriak untuk didengar. Kadang, yang paling penting, adalah mereka yang diam, tapi menjaga semuanya tetap utuh. (*)














