ISRAEL – Di saat panggung politik Israel dipenuhi suara keras, strategi tajam, dan keputusan-keputusan besar yang mengguncang dunia, ada satu sosok yang berdiri tanpa banyak sorotan.
Namanya: Reuven Rivlin. Bukan jenderal di garis depan. Bukan pengendali perang. Bukan pula penguasa kebijakan. Namun justru di saat negara berada di ambang kebuntuan, ia berdiri sebagai penjaga akal sehat.
Rivlin lahir di Yerusalem, dari keluarga lama yang telah mengakar jauh sebelum negara Israel berdiri. Ia tumbuh bukan hanya dengan identitas politik, tapi dengan rasa sejarah.
Dari ruang sidang sebagai pengacara, hingga kursi parlemen, hingga akhirnya menjadi Presiden Israel ke-10. Sebuah posisi yang sering dianggap “simbolik”. Namun sejarah membuktikan: simbol bisa menjadi penentu arah. Tahun-tahun kepemimpinannya bukan masa yang tenang, dilansir dari akun Mojopahit Masa Kini.
Israel mengalami kebuntuan politik berulang. Pemilu demi pemilu, tanpa hasil yang jelas. Negara seperti kehilangan arah.
Di saat itulah, semua mata diam-diam tertuju padanya. Bukan untuk memerintah, tapi untuk menjaga agar semuanya tidak runtuh. Yang membuat Rivlin berbeda, adalah keberaniannya untuk tidak selalu sejalan dengan kekuasaan, bahkan dengan tokoh kuat seperti Benjamin Netanyahu.














