
Padahal bila ditelisik, kebiasaan membuang sampah ke pantai atau laut sejatinya adalah hal lumrah di kalangan masyarakat di kepulauan Maluku sejak lama. Namun dahulu bukan menjadi satu persoalan besar, ketika plastik belum dominan. Sebab yang dibuang lebih banyak sampah organik, seperti daun-daunan dan ranting kayu yang gampang diurai alam.
Kondisi kini berbeda. Saat ini plastik mendominasi sampah rumah tangga. Selain penting dalam kehidupan manusia, proses pembuatannya mudah, murah, sifatnya yang gampang dibentuk dan tahan lama, kegunaannya yang banyak, dari bungkus permen, hingga komponen pesawat terbang.
Meski begitu, di balik keunggulannya, plastik punya efek samping yang besar bagi lingkungan karena sulit terurai secara alami. Keni Vidilaseris, peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun agar plastik bisa terurai di alam.
Menjadi wajar kemudian mengapa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi ekologi dan lingkungan hidup. Karena itu pula di berbagai tempat, terutama di negara-negara maju, upaya penanggulangan sampah plastik menjadi satu prioritas.
Di Indonesia, sekalipun belum signifikan, sejumlah upaya penanggulangan sampah plastik telah dilakukan. Seperti mengadakan bank sampah untuk memudahkan aktivitas pengumpulan sampah plastik, membuat kerajinan berbahan sampah plastik, hingga daur ulang plastik dalam berbagai produk.