Jika iya, maka publik berada dalam posisi yang sulit. Kita diajari untuk percaya pada otoritas ilmiah. Tapi ketika otoritas itu berbicara dengan nada yang sama seperti aktor politik, kepercayaan itu mulai retak.
Kita kembali bertanya:
Di era media sosial, para akademisi tidak lagi cukup puas menjelaskan. Mereka mulai tergoda untuk memengaruhi.
Dan jika itu yang terjadi, maka persoalannya bukan pada siapa yang menang atau kalah dalam politik. Persoalannya adalah siapa yang masih menjaga kejernihan di tengah keramaian.
Karena semakin tinggi otoritas seseorang, semakin besar pula kewajiban untuk menahan diri.
Bukan mengeraskan suara, melainkan menjernihkan makna.
Dan ketika yang paling berpendidikan pun lupa untuk mawas diri, publiklah yang harus menanggung akibat dari kebisingan itu. (***)










