BeritaNasionalOpiniPemerintahanUtama

Profesor Provokator, Agitasi Akademisi

12
×

Profesor Provokator, Agitasi Akademisi

Sebarkan artikel ini

Ketika para akademisi menggunakan diksi yang terdengar seperti ajakan menjatuhkan, menggunakan doksi peovokatif – publik tidak lagi mendengar analisis. Publik mendengar sikap. Publik membaca posisi.

Dalam politik yang terbelah, setiap kata akan segera ditempatkan dalam kotak: kawan atau lawan.

Apakah mereka tidak sadar?
Atau justru sangat sadar?

Pada diri setiap ilmuwan tidak mungkin tidak memahami dampak bahasa. Mereka tahu bahwa kata “jatuhkan”, “lawan”, atau “ancaman” bukan sekadar istilah akademik. Itu adalah kata-kata yang hidup di ruang konflik, di kepala publik yang mudah tersulut.

Di sinilah batas itu menjadi kabur: antara kritik dan provokasi, antara analisis dan agitasi.

Barang tentu, akademisi tidak harus steril. Mereka berhak punya sikap. Mereka bahkan wajib mengkritik kekuasaan.

Baca Juga  Kajati Rudy Irmawan Pimpin Komitmen Besar, Kejati Maluku Menuju WBK/WBBM 2026

Di sisi lain, demokrasi tanpa kritik adalah sunyi yang berbahaya. Namun kritik yang tidak disiplin justru melahirkan kebisingan baru.

Masalahnya bukan pada keberanian mereka berbicara. Masalahnya pada cara mereka memilih kata. Diksi bahasa. Pada ketidakpekaan terhadap bagaimana publik akan menafsirkan. Pada kegagalan menjaga jarak antara ilmu dan emosi.

Apakah ini sekadar gaya komunikasi?

Atau tanda bahwa sebagian akademisi telah bergeser — dari penjernih akal menjadi pemain dalam arena yang sama dengan politisi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *