“Poster ‘Rakyat Diperas, Anggaran Pendidikan Dipangkas, Indonesia Cemas’ itu menggambarkan kondisi saat ini. Rakyat terus diperas untuk memenuhi keinginan pemerintah yang tidak sesuai dengan prioritas utama. Pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur justru semakin terabaikan. Ini adalah ironi besar karena seharusnya pemerintah hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan malah mengurangi anggaran pendidikan,” kata Afif, mahasiswa UGM dalam wawancara di tengah aksi.

Afif mengkritisi adanya dugaan sistematisasi kebodohan yang dilakukan pemerintah agar rakyat lebih mudah dimobilisasi dalam berbagai kepentingan politik, seperti saat pemilu dengan bantuan sosial yang dianggap hanya sebagai alat untuk mempengaruhi suara masyarakat.
Senada dengan Afif, seorang mahasiswa lain bernama Kezia menegaskan bahwa pemerintah saat ini melakukan bentuk penindasan struktural yang kejam. “Ketika pemerintah secara sistematis membiarkan kebodohan terjadi, itu adalah bentuk penindasan struktural. Masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan layak akan lebih mudah dimanipulasi,” kata dia.
Saat ditanya mengenai poster aksi ini, Kezia mahasiswa UGM menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai penyambung lidah rakyat. Seperti arti dalam poster, “Kami bergerak karena alasan kemanusiaan. Kami adalah suara rakyat yang tidak bisa berbicara langsung kepada pemerintah. Sejak Presiden Prabowo menjabat, justru semakin banyak ketidakadilan yang dirasakan masyarakat,” kata Kezia, menegaskan.










