Lihatlah apa yang ia lakukan untuk menambal “kebocoran kapal” ini:
* Meja Makan yang Sepi: Anggaran makan minum tamu yang dulu foya-foya mencapai Rp3,5 Miliar, kini dipangkas habis-habisan menjadi hanya Rp500 Juta.
* Gubernur Tanpa Fasilitas: Dedi menghapus baju dinas, menghapus kendaraan dinas, dan yang paling drastis—menghapus perjalanan dinas gubernur di tahun 2026.
* Matinya Lampu Gedung: Listrik di gedung pemerintahan dikurangi. Pesta seremonial ditiadakan, kecuali untuk peringatan Kemerdekaan dan Hari Jadi Provinsi.
“Tahun 2026 ini saya tidak menggunakan lagi dana perjalanan dinas pemerintah,” tegas Dedi. Sebuah kalimat sederhana, namun menampar keras gaya hidup hedonis pejabat sebelumnya.
Realitas Pahit
Ini adalah kisah tentang dua kepemimpinan yang kontras. Yang satu mewariskan kemegahan semu di atas tumpukan utang, yang satu mewarisi puing-puing sambil berusaha membangun pondasi yang kokoh dengan keringat dan pengorbanan pribadi.
Mata kita kini terbuka. Bahwa di balik “Jabar Juara” di masa lalu, ada Jabar yang “sengsara” secara fiskal di masa kini. Dedi Mulyadi kini berdiri sendirian, memikul beban dosa masa lalu, memastikan setiap rupiah uang rakyat kembali ke aspal jalanan, bukan ke pesta pora pejabat.










