* Ditambah lagi dengan pemangkasan dana transfer pusat sebesar Rp2,458 Triliun.
Jawa Barat sedang “berpuasa paksa” karena kenyang oleh utang masa lalu.
Monumen Ego di Atas Penderitaan Anggaran
Sakit hati rasanya melihat rincian beban itu. Di saat rakyat butuh jaminan kesehatan, APBD justru tergerus untuk membayar “gaya hidup” pemerintahan sebelumnya:
* Cicilan Utang PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional): Hampir Rp600 Miliar per tahun harus disetor.
* Tunggakan BPJS: Menyisakan lubang Rp300 Miliar.
* Biaya “Gengsi” Aset: Rakyat harus menanggung Rp50 Miliar per tahun hanya untuk operasional Masjid Al Jabbar dan Rp100 Miliar untuk subsidi Bandara Kertajati.
Uang yang seharusnya bisa menyekolahkan anak miskin atau memberi makan kaum papa, kini tersedot untuk merawat tembok-tembok beton warisan ambisi.
Pengorbanan Sang Penerus: Memilih Menderita Bersama Rakyat
Di tengah himpitan yang nyaris mustahil ini, Dedi Mulyadi mengambil jalan sunyi. Ia tidak memilih mengeluh, ia memilih berkorban.
Ketika anggaran infrastruktur jalan justru dinaikkan dari Rp3,5 Triliun menjadi Rp4,5 Triliun demi nadi ekonomi rakyat, Dedi memotong urat nadinya sendiri sebagai pejabat. Ia tahu, seseorang harus mengalah agar rakyat tidak kalah.










