Seringkali, kebusukan itu terbungkus rapi dalam kemasan yang indah. Kita terbuai oleh monumen megah, oleh desain arsitektur yang memukau mata, dan oleh keriuhan tepuk tangan di media sosial. Namun, ketika layar ditutup dan lampu sorot dimatikan, barulah tercium aroma amis yang sebenarnya, dilansir dari akun medsos Kabar Indonesia 24 Jam.
Itulah yang terjadi di Jawa Barat hari ini.
Tahun 2026 seharusnya menjadi fajar baru bagi Gubernur Dedi Mulyadi. Namun, fajar itu tertutup awan hitam pekat—sebuah “warisan beracun” dari era Ridwan Kamil. Di balik senyum dan konten yang viral di masa lalu, tersimpan bom waktu fiskal yang kini meledak di tangan penerusnya.
Jerat Utang yang Mencekik Napas Rakyat
Bayangkan seorang ayah yang baru saja mengambil alih kemudi rumah tangga, namun mendapati brankas tidak hanya kosong, melainkan penuh dengan tagihan. Dedi Mulyadi memulai tahun pertamanya bukan dengan berlari, melainkan dengan merangkak, menyeret beban utang peninggalan masa lalu yang menggunung.
Angka itu bukan sekadar statistik, itu adalah uang rakyat yang “hilang”.
Total Rp3 Triliun dana lenyap dari potensi pembangunan 2026.
* Rp621 Miliar harus dibayarkan untuk proyek-proyek era Ridwan Kamil yang “tunda bayar”. Proyeknya direncanakan dan dinikmati di masa lalu, tapi tagihannya dibebankan pada masa depan.










