Sementara itu, pemerhati kemiskinan Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan, sebaiknya jangan terjebak pada pendekatan moneteris semata.
“Hal paling penting adalah pemerintah memahami, bagaimana kondisi aktualnya dan bagaimana mengatasi masalahnya secara sistematis. Bantuan sosial bisa diberikan namun jangan sampai merusak mentalitas penerimanya, harus dipahami bantuan sosial justru menjadi modalitas untuk keluar dari kemiskinan, bukan sebaliknya diperebutkan dan bangga dengan kemiskinan,”tegas Hafidz.
Keberhasilan keluar dari kemiskinan akan ditentukan kemampuan self helping di kalangan komunitas miskin sendiri, seperti pendekatan amartya sen, meskipun negara memberikan dukungan subsidi dan bantuan, selama kapabilitas individu di kalangan keluarga miskin tidak dibentuk, serta tidak adanya pilihan dan kesempatan untuk berkembang maka kemiskinan mustahil terentaskan.
Misalnya program keluarga harapan (PKH) yang menjadi penopang paling bawah bagi keluarga 40 persen keluarga miskin dan juga secara kumulatif mendapat akses bantuan lainnya dari KIP, KIS, bantuan pangan dsb.
Meskpin PKH sudah ada kelompok pendampingnya, namun seberapa mampu pendamping itu mengartikulasikan perubahan mental penerima PKH binaanya dan mengupayakan aksesibilitas menjadi tantangan ke depan. “Hal-hal yang praktis dan strategis itu jauh lebih dibutuhkan ketimbang perdebatan moneterisnya,” kata Hafidz.










