ALI KHAMENEI diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 4 Juni 1989, tak lama setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Menjabat selama lebih dari 36 tahun, ia menjadi pemimpin dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah hingga akhir hayatnya.
Dikutip dari Tempo.co, sebelum diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode (1981–1989).
Ia merupakan presiden pertama dari kalangan ulama yang memimpin negara tersebut di tengah kecamuk Perang Iran-Irak yang panjang.
Sebagai pengikut setia Khomeini, Khamenei merupakan pendukung aktif Revolusi Islam 1979.
Ia memegang peran krusial dalam pembentukan negara Islam, termasuk menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi dan Wakil Menteri Pertahanan pada masa awal berdirinya Republik Islam.
Pada masa prarevolusi (1960-an dan 1970-an), Khamenei berulang kali ditangkap dan dipenjara oleh SAVAK, polisi rahasia Shah Iran, akibat aktivitas politiknya.
Khamenei juga tercatat pernah selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1981, sebuah insiden yang meninggalkan cedera permanen pada tangan kanannya.
Selama masa jabatannya sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memperkuat kekuatan militer Iran secara signifikan melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).










