Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas jurnalisme saat ini sangat bergantung pada kompetensi individu. Banyak perempuan Indonesia, menurutnya, telah menempati posisi strategis di industri media karena kemampuan dan integritas.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat narasi bahwa kesetaraan bukan berarti menyeragamkan peran, melainkan membuka kesempatan yang sama bagi siapa pun yang memiliki kompetensi.
Dengan demikian, tantangan pers ke depan bukan hanya soal representasi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia di tengah disrupsi teknologi.
Dari Diskusi ke Aksi: Lomba Jurnalistik Roehana Koeddoes
Menariknya, semangat Roehana Koeddoes tidak berhenti di ruang diskusi. FJPI juga membuka lomba jurnalistik bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang berlangsung pada 6–12 Februari 2026.
Inisiatif ini menjadi langkah konkret untuk mengajak generasi jurnalis—terutama perempuan—menggali kembali nilai perjuangan Roehana melalui karya jurnalistik. Informasi lomba dapat diakses melalui akun Instagram @fjpIndonesia dan @idntimes.
Langkah ini menunjukkan bahwa memperingati tokoh sejarah tidak cukup dengan seremonial. Perlu ada ruang partisipasi agar nilai-nilai perjuangan tetap hidup dan relevan dengan generasi baru.










