“Jika ada kondisi kesehatan tertentu seperti hemoglobin rendah, mereka tetap boleh menikah, namun kami menyarankan agar kehamilan ditunda sampai kondisi kesehatannya membaik,” kata Patty.
Ia menekankan upaya pendampingan tersebut dinilai memberikan dampak positif terhadap penurunan angka stunting di Kota Ambon.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Ambon, jumlah kasus stunting hingga Desember 2025 tercatat sebanyak 278 kasus, menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 355 kasus.
Sementara itu, hasil Survei Status Gizi Nasional yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik bersama Kementerian Kesehatan juga menunjukkan penurunan prevalensi stunting di Kota Ambon dari 20,7 persen menjadi 19,7 persen.
Patty menyoroti, penurunan tersebut merupakan hasil dari berbagai intervensi dan program yang dijalankan pemerintah daerah secara berkelanjutan melalui pendampingan keluarga dan peningkatan kesadaran masyarakat.
“Upaya ini terus kami lakukan agar angka stunting di Kota Ambon semakin menurun dan generasi masa depan dapat tumbuh lebih sehat dan berkualitas,” pungkasnya. (AM-18)










