Program tersebut dilaksanakan melalui berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor jasa keuangan.
Selain membahas sektor keuangan, Andi juga memaparkan kondisi perekonomian Maluku yang masih menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku pada tahun 2025 tercatat sebesar 4,56 persen, meskipun sedikit berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai sekitar 5,1 persen.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh beberapa sektor utama, seperti perikanan, administrasi pemerintahan melalui belanja APBN dan APBD, perdagangan, serta industri pengolahan.
“Walaupun ada perlambatan dibandingkan rata-rata nasional, pertumbuhan ekonomi Maluku masih tergolong baik dan tetap positif,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan ekonomi di daerah, seperti nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang masih relatif rendah dibandingkan rata-rata nasional serta tingkat kemiskinan yang masih perlu ditekan.
Inflasi di Maluku sendiri masih berada dalam kondisi terkendali, yakni sekitar 3,5 persen, meskipun sedikit berada di atas target inflasi nasional.
“Ke depan kita berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas sehingga mampu menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya. (AM-18).










