Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan gempa tersebut sebagai keadaan darurat tingkat tinggi karena mereka segera membutuhkan bantuan sebesar $8 juta untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah wabah penyakit selama 30 hari ke depan. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah meluncurkan permohonan lebih dari $100 juta untuk membantu para korban.
Tim bantuan dan penyelamatan internasional telah tiba setelah kepala junta Min Aung Hlaing mengajukan permohonan bantuan asing yang sangat langka.
Di masa lalu, para jenderal penguasa Myanmar yang terisolasi telah menolak bantuan asing, bahkan setelah terjadinya bencana alam besar. Juru bicara Junta Zaw Min Tun berterima kasih kepada sekutu utama China dan Rusia atas bantuan mereka, serta India, dan mengatakan pihak berwenang telah melakukan yang terbaik. “Kami berusaha memberikan perawatan kepada yang terluka dan mencari yang hilang,” katanya dalam sebuah pernyataan kepada wartawan.
Namun, muncul laporan mengenai militer yang melancarkan serangan udara terhadap kelompok bersenjata yang menentang kekuasaannya, bahkan saat Myanmar masih bergulat dengan dampak gempa. Salah satu kelompok bersenjata etnis minoritas mengatakan kepada AFP pada hari Minggu bahwa tujuh pejuangnya tewas dalam serangan udara segera setelah gempa hari Jumat, dan ada laporan mengenai serangan udara lainnya pada hari Senin.
Perang saudara yang berkecamuk di Myanmar, yang mempertemukan militer dengan kelompok pejuang antikudeta dan kelompok bersenjata etnis minoritas, telah menyebabkan sekitar 3,5 juta orang mengungsi, dan banyak di antaranya berisiko kelaparan.