Mereka butuh keterampilan dalam mencari lapangan kerja, hanya dengan berjalan bersama pelayan gereja menjadi lebih kuat, apalagi di 2030 Kongres 21 AMGPM dan daerah kota Ambon menjadi tuan dan nyonya rumah ini juga akan menjadi tanggung jawab bersama kita.
Ia mengatakan, kita dipanggil untuk memberdayakan umat, banyak keluarga mengalami tekanan ekonomi yang berat ada 27,86% dikategorikan berpendapatan rendah low income, maka melalui pendidikan keuangan pelatihan usaha kecil dan berbagi bentuk usaha lainya kita dapat menolong umat untuk membangun kemandirian seperti apa.
”Saya mau bilang bahwa setiap tanggal 8 bulan berjalan kita pakai sebagai hari naik becak di GPM klasis kota. Kualitas pelayanan kita bukan dari banyaknya kegiatan tetapi pada sentuhan pastoral, umat akan merasa didampingi keluarga-keluarga, kita merasa diperhatikan dan sebagai gereja kita harus hadir dalam setiap pergumulan umat ditengah perkembangan teknologi dan dan media sosial,” katanya.
Disebutkan, saat ini gereja juga perlu menolong umat untuk menggunakan media digital secara bijaksana, di satu sisi gereja harus tetap kokoh dalam iman tapi juga terbuka dalam menata pelayanan.
”Kita tidak boleh kehilangan identitas iman kita tetapi kita juga tidak boleh menutup diri kita dari perkembangan zaman. Mari kita menghindari penyebaran berita hoax yang provokasi bahkan saling menghakimi di media sosial ,hidup di konteks kota ambon memiliki sejarah yang mengajarkan kita tentang pentingnya perdamaian, karena itu relasi antar umat beragama harus dirawat,” bebernya.










