Arikamedia.id – MASIH tertinggal aroma kopi di meja itu, dan kecup pamitmu yang masih hangat di keningku.
Dikutip dari akun netizen, medsos Asti Nirwana, berita itu datang, meruntuhkan seluruh duniaku, mengabarkan ATR-400 yang terhenti di belantara bisu.
Maros kini bukan lagi sekadar nama di peta, ia adalah palung sesak tempatku menitipkan air mata. Aku menatap gunung-gunung tinggi yang angkuh menjulang, bertanya pada rimbun pohon: “Kapan lelakiku akan pulang?”
Logika mengatakan harapan itu telah mengecil, terhimpit puing dan kenyataan yang begitu menggigil.
Namun, hatiku bukanlah angka atau data penerbangan, ia adalah rumah yang kuncinya masih engkau simpan.
“Tuhan… jika Engkau pemilik segala yang mustahil, munculkanlah ia dari balik kabut yang menyita andil. Aku masih mengetuk pintu langit demi sebuah mukjizat, agar napasnya kembali kudengar, meski dalam keadaan penat.”
Meski seluruh dunia memintaku untuk mengikhlaskan, aku memilih berdiri di sini, di barisan paling depan.
Menunggumu kembali dari pelukan langit yang kelam, membawa pulang rindu yang belum sempat padam. ***










