BeritaDaerahOpiniSOSIALUtama

Maluku dalam Lingkaran Konflik Identitas Negeri dan Suku

135
×

Maluku dalam Lingkaran Konflik Identitas Negeri dan Suku

Sebarkan artikel ini
Samil Rahareng

Dalam konteks ini, konflik identitas tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa. Elite lokal kerap memproduksi identitas suku dan negeri sebagai modal politik dan legitimasi distribusi sumber daya. Sejalan dengan pandangan Pierre Bourdieu, identitas berfungsi sebagai symbolic capital yang dapat dikonversi menjadi kekuasaan. Akibatnya, konflik tidak lagi bersifat insidental, tetapi dilembagakan melalui kebijakan yang bias dan praktik eksklusi yang berulang.

Narasi perdamaian Maluku yang selama ini dibangun sering kali bertumpu pada simbol dan romantisme kearifan lokal, seperti pela gandong. Namun tanpa institusionalisasi, nilai tersebut kehilangan daya transformasinya. Clifford Geertz mengingatkan bahwa budaya tidak cukup dirayakan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam struktur sosial dan kebijakan yang nyata. Ketika kearifan lokal berhenti pada seremoni, ia gagal menjadi alat resolusi konflik.

Rekomendasi Konseptual dan Kebijakan

Baca Juga  Tak Punya Surat keur Siap-Siap Dihentikan Dishub Ambon

Pertama, pemerintah daerah perlu membangun mekanisme permanen penyelesaian konflik negeri dan suku berbasis conflict transformation (Lederach). Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan konflik, tetapi mentransformasi relasi sosial melalui pemetaan wilayah yang sah, dialog partisipatif, dan integrasi hukum negara dengan hukum adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Program Pelatihan Vokasi Nasional juga dirancang untuk memberikan skilling, upskilling, dan reskilling kepada para peserta, dengan mengedepankan prinsip link and match. Prinsip itu memastikan keselarasan kuat antara…