Setelah menghabiskan pagi dan siang, kami tiba di Kampung Omon sekitar jam 5 sore. Gelap gulita menyelimuti kampung. Tak ada listrik atau akses internet.
Yang terdengar di telinga hanyalah suara serangga. Lampu senter yang dinyalakan warga menandai kehidupan malam. Inilah lanskap dan situasi yang dihadapi komunitas Elseng sepanjang sejarah mereka.
Malam itu, 17 Desember 2025, satu per satu warga Omon berdatangan ke balai kampung. Mereka bersekutu dalam ibadah Natal. Cahaya lilin menerangi wajah mereka. Nyanyian untuk Tuhan mereka gemakan di tengah hutan.
Ketika ditanya apakah dia merasa warga Omon dilupakan pemerintah, Frans Tabisu, kepala kampung itu, tak langsung menjawab dengan istilah politik atau kritik. Dia memilih bercerita tentang kehidupan sehari-hari warganya, terutama para perempuan tua yang menurutnya cermin paling jujur tentang seberapa jauh negara hadir di kampung mereka.
“Mereka bilang begitu ke saya. Mungkin kami ini belum merdeka betul,” kata Frans pelan.
Frans berkata, sejak masa kolonial Belanda hingga era integrasi dengan Indonesia, ada sejumlah warga komunitas Elseng di Kampung Omon yang belum pernah keluar dari ruang hidup mereka.
“Sampai sekarang masih ada mama-mama yang belum tahu bahasa Indonesia. Ada mama-mama yang belum pernah lihat Kota Jayapura,” ujarnya.










