BeritaDaerahInternasionalKesehatanNasionalSOSIALUtama

Kisah suku nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – ‘Mengapa negara tidak melihat kami?’

48
×

Kisah suku nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – ‘Mengapa negara tidak melihat kami?’

Sebarkan artikel ini
Kampung Omon berada di bawah administrasi Distrik Gresi Selatan - Ikbal Asra

Setelah menghabiskan pagi dan siang, kami tiba di Kampung Omon sekitar jam 5 sore. Gelap gulita menyelimuti kampung. Tak ada listrik atau akses internet.

Yang terdengar di telinga hanyalah suara serangga. Lampu senter yang dinyalakan warga menandai kehidupan malam. Inilah lanskap dan situasi yang dihadapi komunitas Elseng sepanjang sejarah mereka.

Malam itu, 17 Desember 2025, satu per satu warga Omon berdatangan ke balai kampung. Mereka bersekutu dalam ibadah Natal. Cahaya lilin menerangi wajah mereka. Nyanyian untuk Tuhan mereka gemakan di tengah hutan.

Ketika ditanya apakah dia merasa warga Omon dilupakan pemerintah, Frans Tabisu, kepala kampung itu, tak langsung menjawab dengan istilah politik atau kritik. Dia memilih bercerita tentang kehidupan sehari-hari warganya, terutama para perempuan tua yang menurutnya cermin paling jujur tentang seberapa jauh negara hadir di kampung mereka.

Baca Juga  Ambon Menuju Kota Bersih dan Hijau, Wali Kota Wajibkan Kerja Bakti 

“Mereka bilang begitu ke saya. Mungkin kami ini belum merdeka betul,” kata Frans pelan.

Frans berkata, sejak masa kolonial Belanda hingga era integrasi dengan Indonesia, ada sejumlah warga komunitas Elseng di Kampung Omon yang belum pernah keluar dari ruang hidup mereka.

“Sampai sekarang masih ada mama-mama yang belum tahu bahasa Indonesia. Ada mama-mama yang belum pernah lihat Kota Jayapura,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *