BeritaDaerahInternasionalKesehatanNasionalSOSIALUtama

Kisah suku nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – ‘Mengapa negara tidak melihat kami?’

48
×

Kisah suku nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – ‘Mengapa negara tidak melihat kami?’

Sebarkan artikel ini
Kampung Omon berada di bawah administrasi Distrik Gresi Selatan - Ikbal Asra

Dalam berbagai berkas itu, komunitas Elseng disebut sebagai orang Tabu, yang menurut pakar linguistik, Willem Burung, sebuah istilah yang melecehkan karena bermakna “orang-orang terbelakang”.

Kini warga Kampung Omon bertanya, apakah mereka benar-benar bagian dari Indonesia. Jika jawabannya ya, mereka bertanya mengapa hingga saat ini mereka belum mendapat hak-hak dasar yang telah dinikmati masyarakat Indonesia di tempat-tempat lainnya?

BBC News Indonesia pada pertengahan Desember lalu datang ke Kampung Omon, bersama Komunitas Medis Papua Tanpa Batas. Berikut adalah cerita komunitas Elseng di Omon, sejarah, keluh kesah dan harapan mereka.

“Benarkah kami bagian dari negara ini?”

Perjalanan menuju Omon dimulai dari Kampung Bangai, yang merupakan pusat Distrik Gresi Selatan. Dua kampung ini terpisah jarak sepanjang hampir 18 kilometer—rute yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, melalui hutan belantara dan sejumlah sungai besar.

Baca Juga  Dana MBG Sepenuhnya dari Efisien Anggaran Kementerian dan Lembaga Tidak Sesuai Ketentuan Hukum

Hujan gerimis membuat perbukitan licin.

Di berbagai titik, kaki terbenam lumpur setinggi betis. Perbekalan di pundak kami terasa berat. Dalam situasi itu, kami juga harus melalui tanjakan curam. Sebagian dari kami bernafas sengal-sengal sehingga terpaksa berjalan perlahan. Di tengah perjalanan, sungai besar berarus deras harus kami seberangi. Sebuah tenda di tengah hutan ini menjadi satu-satunya tempat berteduh dan beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *