Leo Lopulisa boleh kesal oleh invasi itu. Menurut David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba Rezim Militer Indonesia 1975–1983, Leo sedang di Paris ketika invasi terjadi bahkan tak diajak bicara soal kesiapan pasukan serta rencana invasi itu.
“Saya cuma sekadar komandan upacara penguburan jenazah. Hanya itu, saya tidak dilibatkan. Saya hanya bertugas bagi mereka yang tidak akan kembali lagi,” kata Leo Lopulisa seperti dicatat Jenkins.
Leo Lopulisa bukan jenderal Ambon terakhir di TNI. Tiga dekade setelah Leo ada lagi jenderal Ambon yang melampauinya, yakni Jenderal TNI George Toisutta (1956–2019) yang menjadi KSAD dari 2009 hingga 2011.Ia adalah KSAD pertama berdarah Ambon.
Di zaman Orde Baru, ada Leo yang lain selain Leo Lopulisa di ABRI. Namanya Leonardus Willem Johanes Wattimena (1927–1976). Penerbang jet pertama bersama Rusmin Nurjadin ini dikenal sebagai Leo Wattimena. Setelah sebagai kolonel dalam Operasi Mandala Trikora pada 1963,ia menjadi Komodor yang setara dengan Brigadir Jenderal.
Leo Wattimena adalah penerbang lulusan TALOA Amerika bersama Sri Mulyono Herlambang dan Omar Dani. Sebelum masuk AURI pada 1950, Leo menghabiskan masa mudanya dengan sekolah dan bekerja sebagai buruh kantoran di derah pendudukan Belanda.










