“Pesan Natal mengisyaratkan sikap hidup yang inklusif, terbuka dan merengkuh yang lain. Orang-orang Kristen harus teguh menjadi berkat bagi bangsa ini. Mendoakan dan mengupayakan kesejahateraan, sekalipun kita ada dalam situasi sulit,” ujarnya.
Sambungnya, Tema ini juga dipilih ketika kita baru saja menyelesaikan Pesta demokrasi untuk memilih pemimpin kita baik pimpinan kota di level nasional maupun daerah. Ini sedikit berbeda dengan perayaan Natal tahun lalu.
Peristiwa Natal di Betlehem menurutnya, memberikan pesan kuat dimana Allah memberi diri berdamai dengan manusia dan ketika kita terpanggil pergi ke Betlehem, maka kita juga terpanggil memberi diri bagi pendamaian dan sukacita di bangsa ini.
Lebih lanjut diungkapkan, saat ini para pemimpin di bangsa ini telah terpilih, pimpinan nasional hingga pimpinan di daerah. Dari palungan di Betlehem kita belajar, sambil berdoa agar pemimpin kita dan siapapun diantara kita yang mengelola potensi kepemimpinan entah di dalam masyarakat, di politk bahkan di dalam keluarga kita memiliki hati seorang pemimpin yang melayani, hati seorang pemimpin yang rela menyamai, yang rela mengobati orang-orang kecil apapun latarbelakangnya.
Dalam peringatan Natal ini mari kita berdoa bagi semua pemimpin bangsa kita juga bagi diri kita yang dipercayai Allah untuk melayani, di tengah masyarakat, Gereja dan di tengah bangsa ini.(AM-29)










