Kita sungguh bernilai di dihadapan cinta agung Allah sambungya, betatapun kecilnya kita dihadapan manusia.
Lebih jauh Manuputty mengkhotbahkan, ajakan ke Betlehem adalah ajakan memberi diri ke rengkuhan cinta Allah yang tidak terbatas. Sehingga kita dimampukan untuk melantangkan cinta itu dan membaginya bagi sesama maupun lingkungan hidup di sekitar kita.


Hanya orang-orang yang merasa dicintai dan dipedulikan yang mampu membagikan cinta agung dan cinta sejati, dia menambahkan, persitiwa Natal adalah peristiwa dimana kita direngkuh oleh cinta sejati Allah.
“Ajak untuk pergi ke Betlehem adalah ajakan untuk menyikapi solidaritas Allah di dalam Kristus kepada yang lemah berdasarkan cinta yang tidak terbatas itu. Cinta yang mengampuni, yang peduli pada orang yang dikucilkan, yang terpinggirkan,” pungkasnya.
Perjumpaan kita dengan Allah yang solider dan berbela rasa dikatakan, memampukan kita untuk memuji dan memulikan Allah dengan cara menghidupi hidup yang sederhana. Sambil berbelarasa dan solider dengan masyarakat yang lemah menjadi sahabat bagi mereka yang terpinggirkan, tanpa memandang perbedaan agama, etnis, kepercayaan, warna kulit, golongan.
Merayakan Natal menurutnya, bisa sungguh menjadi peneguhan komitmen iman kita yang dinyatakan melalui solidaritas sikap berbela rasa di dalam kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan.










