PERAN Media di Maluku masih belum maksimal dalam mengangkat isu-isu lingkungan dan kerentanan masyarakat.
“Bahkan media besar pun masih kurang berpihak pada isu lingkungan. Pers sering menunggu peristiwa, bukan menjadi pelopor,” ujar Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Maluku, John Sahusilawane baru-baru ini.
Untuk itu ia mendorong agar persoalan lingkungan di Maluku diusulkan secara serius kepada organisasi pers seperti PWI, AJI, SMSI, dan lainnya, agar para jurnalis dihimbau lebih aktif dan berani mengangkat isu-isu pencegahan.
Ia mencontohkan kondisi Ambon yang sangat rawan longsor saat musim hujan. Meski pemerintah biasanya bergerak saat bencana mengancam, media dinilai perlu lebih cepat memberitakan daerah-daerah rawan agar langkah antisipasi bisa dilakukan sejak dini, khususnya oleh BPBD.
“Kalau pers lebih awal memberitakan, BPBD bisa bergerak lebih cepat. Jangan tunggu korban dulu,” imbuhnya.
BPBD perlu diperkuat dengan program pencegahan yang jelas dan berkelanjutan. Mereka mendorong adanya ruang dialog bersama antara pemerintah, pers, komunitas lingkungan, dan masyarakat.
Selain bencana alam, dirinya juga menyinggung persoalan kebersihan kota yang masih menjadi tantangan besar.










