Namun, risikonya juga besar. Tanpa jabatan, visibilitas turun, dan kritik seperti “pengecut” dari oposan bisa menempel, seperti tudingan terhadap SBY era lalu.
Jika oposisi yang dibangun gagal, AHY berpotensi “pensiun dini” politik, bergantung bisnis keluarga atau akademik. Tetapi jika sukses, seperti singgungan AHY soal “upaya amoral” di depan Gibran, ia bisa menjadi ikon perlawanan terhadap dinasti politik, dilansir dari akun Facebook Pepih Nugraha II.
Namun prediksi saya peribadi, AHY akan tetap bertahan di koalisi untuk melindungi kariernya, tetapi jika keluar nasibnya bergantung keberanian mengambil risiko: bisa menjadi presiden atau sebaliknya menjadi “pangeran jatuh.”
Kemungkinan Demokrat menjadi oposisi adalah ujian bagi demokrasi Indonesia secara lebih luas, apakah partai politik berani lepas dari godaan kekuasaan demi “checks and balances” tadi?
Jika ya, ia revitalisasi oposisi yang lemah. Tetapi jika tidak, koalisi Prabowo makin hegemonik dan risiko terjerumus ke otoritarianisme lunak.
Satu hal, AHY adalah aset bangsa. Tentu saja Demokrat harus menghitung untung-rugi kemungkinan ini dengan cermat. Dengan kata lain bertahan aman tetapi stagnan, sementara keluar berisiko tetapi berpotendi menjadi legendaris. Mau pilih yang mana? – Pepih Nugraha II










