HMI membutuhkan pemimpin yang tidak memperuncing perbedaan tetapi mampu menjadikan perbedaan sebagai energi konsolidasi. Di sinilah makna sinergi menemukan relevansinya secara nyata.
Lebih jauh HMI SINERGI juga dapat dibaca sebagai upaya menjembatani kembali jarak antara ideologi dan praksis. Nilai Insan Cita dan Nilai Dasar Perjuangan selama ini sering berhenti di ruang pengkaderan formal tanpa diturunkan secara konsisten menjadi kerja intelektual dan pengabdian sosial yang berkelanjutan.
Gagasan kepemimpinan transformatif yang ditawarkan Rizqi Tuasikal menunjukkan kesadaran bahwa HMI harus kembali menjadi rumah kader intelektual bukan sekadar arena kontestasi struktural.
Karakter kepemimpinan semacam ini menjadi semakin relevan ketika HMI Cabang Ambon dihadapkan pada tantangan apatisme mahasiswa pragmatisme zaman dan derasnya arus disrupsi digital.
Pemimpin yang dibutuhkan bukan figur populis sesaat tetapi penggerak kesadaran kolektif yang mampu menghidupkan kembali budaya diskusi riset dan keberpihakan sosial. HMI SINERGI jika dimaknai secara serius menuntut kepemimpinan yang bekerja secara konsisten meski tidak selalu tampil di permukaan.
Konferensi Cabang 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bukan sekadar arena perebutan posisi. Kader HMI dituntut untuk lebih dewasa dalam berdemokrasi menilai gagasan di atas figur serta menempatkan masa depan organisasi di atas kepentingan jangka pendek.










