Menurut Menko PM, tantangan penanggulangan kemiskinan semakin kompleks di tengah target nasional penghapusan kemiskinan ekstrem pada tahun 2026 dan penurunan kemiskinan relatif hingga maksimal 5 persen pada 2029. Berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah turut memberikan tekanan terhadap upaya pencapaian target tersebut, sehingga membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Di sinilah peran filantropi menjadi sangat penting. Saya sangat berharap apa yang dilakukan Rumah Zakat dan juga filantropi-filantropi yang lain untuk meletakkan semangat dan spirit pemberdayaan sebagai strategi penanggulangan kemiskinan sekaligus mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Menko PM juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam mengorkestrasi program pemerintah dan filantropi.
Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) terus diperkuat melalui pemutakhiran dan verifikasi, sekaligus dibuka ruang sinergi dengan data yang dimiliki filantropi, yang selama ini dinilai memiliki kedekatan dan akurasi tinggi dalam memotret kondisi riil masyarakat.
“Tahun 2026 kita harus dorong seluruhnya aktif, bergerak dan berdampak bukan berapa banyak dana yang disampaikan tetapi berapa banyak dana yang tepat sasaran dan berkelanjutan sehingga apa yang dilakukan oleh pemerintah, apa yang dijalankan oleh teman-teman di luar pemerintahan bisa benar-benar efektif di dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.










