Setelah kejadian tersebut, Jamal masih sempat menulis laporan soal penangkapan massa aksi oleh polisi. Namun, pada malam hari, dia kembali mengalami kekerasan dari diduga personel kepolisian berpakaian preman.
Aksi kekerasan kedua terhadap Jamal terjadi sekira pukul 21.00 WIB. Saat itu, kata dia, aparat sedang mengepung massa aksi yang berada di Kampus Universitas Diponegoro, Pleburan, Semarang. Gedung itu berlokasi kurang lebih 450 meter dari Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aparat diduga mengepung gedung tersebut karena massa aksi menahan salah satu intel kepolisian.
Jamal bersama lima orang wartawan lainnya sedang memantau situasi tersebut dari depan gedung saat diduga aparat menggiring beberapa massa aksi keluar. Menurut Jamal, para demonstran itu mengalami pemukulan saat ditangkap.
Mengutip dari Tempo.co, Jamal dan rekan-rekannya kemudian berdiri untuk mewartakan penangkapan tersebut. “Kami otomatis berdiri melihat situasi seperti itu,” ucap dia.
Para diduga aparat yang menangkap demonstran itu lalu melarang wartawan mendekat. Mereka juga menghalangi jurnalis mengambil gambar dan video. Jamal berujar situasi kemudian memanas. Orang-orang yang diduga aparat berpakaian preman menunjuk salah satu jurnalis dengan nada tinggi karena ogah direkam.










