Andaikan media sosial menerapkan 11 poin kode etik jurnalistik, menjalankan uji informasi dan keberimbangan, maka tantangan pers akan jauh lebih berat. Sementara itu, supremasi algoritma disebut sebagai bentuk dominasi baru yang mendikte selera publik dan arah pemberitaan.
Media tidak lagi sepenuhnya berdaulat atas kontennya sendiri. Tantangan pers kita hari ini sangat berat. Jika tidak berhati-hati, pers yang kuat dan bersejarah ini bisa tinggal cerita.
Karena pada akhirnya, teknologi hanya alat arah dan maknanya ditentukan oleh manusia. Wartawan berada dalam posisi serba sulit. Menulis apa adanya berarti berisiko, sementara menahan atau melembutkan berita berarti mengkhianati profesi. Ada kekuasaan yang ingin dipuji, ada kebijakan yang tak boleh dikritik, dan ada kasus yang diminta “didiamkan demi stabilitas”.
Ancaman terbesar terhadap kebebasan pers justru muncul dari internal. Jika dahulu pers kerap dibatasi oleh kepentingan pemilik modal atau kekuasaan, kini pers sering kali membatasi dirinya sendiri.
Tekanan semacam ini kerap dibungkus rapi dengan bahasa yang terdengar bijak: “kepentingan nasional”, “jangan memperkeruh suasana”, atau “demi kebaikan bersama”. Keberimbangan dalam pemberitaan tidak hanya penting untuk menjaga kepercayaan publik, tetapi juga untuk memastikan bahwa masyarakat dapat membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang benar.










