Ia menyebut, kondisi serupa juga dialami sejumlah daerah lain di Indonesia Timur.
“Dari 14 kabupaten/kota di kawasan timur, delapan daerah mengalami tekanan inflasi akibat naiknya biaya transportasi udara,” katanya.
Lonjakan harga tiket pesawat, lanjutnya, sejalan dengan meningkatnya jumlah penumpang di Bandara Pattimura Ambon pada akhir 2025. Meski masuk kategori administered price atau harga yang diatur pemerintah, tarif penerbangan tetap dipengaruhi kondisi pasar.
“Harga tiket berada dalam rentang batas atas dan bawah, namun faktor cuaca, gangguan jadwal penerbangan, hingga kenaikan biaya operasional maskapai turut memengaruhi harga di lapangan,” jelasnya.
Secara tahunan, inflasi Kota Ambon sepanjang 2025 mencapai 4,23 persen. Penyumbang terbesar berasal dari emas perhiasan sebesar 0,79 persen dan angkutan udara sebesar 0,42 persen, atau sekitar 1,21 persen dari total inflasi.
“Kedua komoditas ini berada di luar kontrol langsung pemerintah daerah. Tanpa lonjakan pada sektor tersebut, laju inflasi Ambon sebenarnya lebih moderat,” ungkapnya.
Sementara itu, dari sektor pangan, kinerja pengendalian harga dinilai cukup positif. Inflasi beras sepanjang 2025 tercatat 0,26 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 0,44 persen. Hal ini menunjukkan efektivitas kebijakan menjaga pasokan dan stabilitas harga kebutuhan pokok.










