Pramono mengatakan bahwa kesiapan bukan berarti pasukan akan berangkat. Pengerahan pasukan masih membutuhkan keputusan politik dan bergantung pada mekanisme internasional, katanya.
Kementerian Luar Negeri Indonesia telah berulang kali menyatakan bahwa peran Indonesia di Gaza akan bersifat kemanusiaan semata. Kontribusi Indonesia akan berfokus pada perlindungan warga sipil, layanan medis, rekonstruksi, dan pasukan Indonesia tidak akan ikut serta dalam operasi tempur atau tindakan apa pun yang dapat menyebabkan konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata.
Indonesia akan menjadi negara pertama yang secara resmi mengerahkan pasukan untuk misi keamanan yang dibentuk di bawah inisiatif Dewan Perdamaian Trump untuk Gaza, di mana perjanjian gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas telah berlaku sejak 10 Oktober setelah dua tahun perang yang menghancurkan, dilansir dari AP.
Indonesia , negara mayoritas Muslim terpadat di dunia, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel dan telah lama menjadi pendukung kuat solusi dua negara. Indonesia telah terlibat secara aktif dalam memberikan bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk mendanai sebuah rumah sakit.
Para pejabat Indonesia membenarkan bergabung dengan Dewan Perdamaian dengan mengatakan bahwa hal itu diperlukan untuk membela kepentingan Palestina dari dalam, karena Israel termasuk dalam dewan tersebut tetapi tidak ada perwakilan Palestina.










