Meski intelijen Belanda terus membuntuti, Ina Bala dengan lihai memanfaatkan perannya sebagai jurnalis perempuan pertama di Maluku untuk menyusupkan narasi kemerdekaan melalui tulisan mengutip Balagu.com.
Keberaniannya mencapai puncak saat ia memimpin massa perempuan Ina Tuni untuk bahu-membahu dengan para pejuang pria dalam menjaga garis depan basis politik, memastikan pesan-pesan perjuangan tetap sampai ke telinga rakyat kecil meski tekanan militer Belanda semakin mencekik, melansir Maluku Post.
Ia membuktikan bahwa peluru mungkin bisa melukai fisik, namun pena dan orasi politik perempuan Maluku adalah senjata yang tidak bisa dipatahkan oleh jeruji penjara kolonial.
Hingga hari ini, jejak perjuangannya di Negeri Lateri dan perannya sebagai motor penggerak emansipasi wanita di lapangan politik terus dikenang. Ia bukan sekadar saksi sejarah, melainkan penulis sejarah itu sendiri dengan tangannya sendiri.
Sumber : DINAS KEBUDAYAAN DIY SEJARAH INA BALA WATTIMENA










