Dia bahkan terlibat langsung dalam pertempuran heroik 10 November di Surabaya. Kiprah politiknya berlanjut hingga ia dipercaya menjadi wakil Maluku di Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan DPR Republik Indonesia Serikat (DPRS). Di parlemen, ia dikenal vokal menyuarakan otonomi dan pemerataan pembangunan untuk wilayah Timur Indonesia.
Gubernur Maluku ke-3 dan Warisan Pendidikan
Puncak pengabdiannya terjadi pada tahun 1960 saat ia dilantik menjadi Gubernur Maluku ke-3, menggantikan Muhammad Djosan. Momen ini mencatat sejarah unik di mana dua putra berdarah Minangkabau memimpin Maluku secara berturut-turut (Djosan 1955–1960 dan Padang 1960–1965).
Selama lima tahun masa jabatannya, Muhammad Padang meletakkan pondasi penting bagi pembangunan daerah. Salah satu warisan terbesarnya yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Universitas Pattimura (Unpatti). Ia merupakan salah satu pendiri universitas kebanggaan masyarakat Maluku tersebut pada tahun 1962 dan sempat menjabat sebagai anggota Presidium Unpatti.
Menutup Khidmat sebagai Tokoh Pemersatu
Muhammad Padang mengakhiri masa jabatannya pada tahun 1965. Ia dikenang bukan hanya sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai simbol persatuan Nusantara. Seorang putra Saparua dengan darah Minang yang membuktikan bahwa pengabdian tulus tidak mengenal asal-usul, namun berfokus pada kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. ** Alwxander Djamlulail (Kampung Diponegoro-Batu Gajah).










