Masa depan pers di Indonesia bergantung pada apakah masyarakat dan negara mampu membangun ekosistem informasi yang sehat sebab kebenaran tidak tunduk pada kekuasaan, dan kebebasan tidak diubah menjadi alat propaganda. Pers yang bebas bukan berarti tanpa tanggung jawab; ia adalah wujud dari komitmen bersama terhadap demokrasi yang hidup, terbuka, dan berpihak pada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak menyenangkan bagi mereka yang berkuasa.
Di tengah riuh zaman, wartawan sejati dituntut untuk lebih tenang. Tidak hanyut oleh arus, tidak silau oleh angka, dan tidak lupa tujuan. Karena pada akhirnya, berita bukan hanya tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi tentang bagaimana sejarah kelak mencatatnya.
Disinilah jurnalisme menemukan kembali martabatnya ketika ia tetap berdiri tegak, meski dunia berlari terlalu cepat. Pers tidak sedang mati, tetapi sedang diuji…..sebuah perenungan! *










