KEHADIRAN media sosial (medsos) dan platform digital kini bukan sekadar saluran informasi, melainkan menjadi aktor utama yang mengatur apa yang dilihat, dibaca, dan dipercaya publik. Popularitasnya tak lagi ditentukan oleh kedalaman liputan, melainkan oleh daya tarik personal dan kemampuan memancing atensi dan emosi penonton.
Konten singkat, visual, dan emosional lebih mudah dikonsumsi dibanding laporan panjang yang membutuhkan waktu dan kerja kerja jurnalistik. Proses ini tak hanya bertujuan menghasilkan berita berkualitas, tapi juga menjaga akurasi, keberimbangan, dan kepentingan publik.
Informasi kini tidak lagi harus melewati ruang redaksi wartawan. Suatu sistem yang bekerja berdasarkan pada keuntungan dan popularitas, bukan pada kepentingan publik. Ketergantungan publik terhadap Google dan YouTube pun memperkuat kondisi ini.
Situasi ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence (AI). Ketika pers sudah tak dianggap dengan kepentingan publik, karena terlalu rumit, atau terlalu kompromistis dengan kekuasaan.
Dalam situasi seperti ini, peran wartawan senior justru semakin penting. Pengalaman bukan sekadar nostalgia, melainkan kompas moral. Wartawan yang telah melewati berbagai rezim, krisis, dan perubahan teknologi memiliki kejernihan yang tidak bisa digantikan algoritma. Mereka menjadi penyeimbang di tengah euforia digital, pengingat bahwa jurnalisme adalah amanah publik, bukan sekadar industri konten.










