DI BALIK tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, tersimpan kisah-kisah personal yang kini hanya tersisa dalam ingatan dan pesan terakhir.
Salah satunya adalah cerita tentang Dwi Murdiono, seorang mekanik pesawat yang menjadi korban kecelakaan maut tersebut.
Sosok Dwi Murdiono, Engineer yang Berangkat dengan Tugas
Dwi Murdiono merupakan warga Tajurhalang, Bogor, Jawa Barat. Ia bertugas sebagai engineer di PT Indonesia Air Transport (IAT).
Dalam penerbangan nahas itu, Dwi berangkat bersama sejumlah kru pesawat serta tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Melansir TRIBUNTRENDS.COM, sebelum keberangkatan, Dwi sempat berbincang dengan sang istri, Sinta Jayanti.
Ia menceritakan rencana perjalanan dinasnya yang cukup panjang, dimulai dari Bogor, singgah ke Semarang, lalu melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.
Rencana Perjalanan yang Tak Pernah Tuntas
Menurut Sinta, suaminya menjelaskan bahwa ia akan terbang ke Makassar pada Sabtu pagi untuk menjalankan tugas patroli laut.
“Suami saya berangkat dinas biasa untuk patroli di laut. Dia berangkat dari Semarang, setelah singgah sampai jam 5 sore, lalu melanjutkan ke Jogja dan menginap di sana. Setelah tiba di Makassar, rencananya Dwi dan rombongan akan kembali ke Jakarta.










