Dirinya mencontohkan kegiatan LGJI, yang hingga saat ini belum mendapatkan konfirmasi jadwal dari komunitas AMGPM Kota Ambon.
“Kalau belum ada konfirmasi agenda, tentu kami belum bisa masukkan secara pasti dalam kalender event,” katanya.
Lebih lanjut, Tukloy mengakui bahwa tidak realistis jika setiap bulan harus ada event besar. Penentuan waktu penyelenggaraan sangat bergantung pada momentum dan kondisi masyarakat.
Pada bulan Februari, misalnya, Disparbud Kota Ambon melaksanakan dua event sekaligus, karena waktu pelaksanaannya tidak memungkinkan untuk dipindahkan ke bulan Maret, salah satunya berkaitan dengan perayaan Gong Xi Fa Cai.
Selain itu, Festival Ramadhan juga diupayakan digelar sebelum memasuki bulan suci atau setidaknya di akhir Februari, meskipun sudah mendekati awal puasa.
“Event harus sudah berjalan sebelum masyarakat pulang ke kampung halaman. Kalau dipaksakan ke bulan Maret, suasananya sudah berbeda, karena sebagian besar masyarakat sudah meninggalkan Kota Ambon,” ungkap Tukloy.
Dengan pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon berharap setiap event yang digelar, baik oleh pemerintah maupun komunitas, dapat memberi manfaat nyata bagi pelaku seni, UMKM, dan masyarakat luas, sekaligus menjaga denyut pariwisata Kota Ambon tetap hidup dan berwarna. (AM-18)










