Sistem pencatatan dan pelaporan pun terus diperkuat untuk memantau cakupan serta efektivitas program. Meski demikian, tantangan di lapangan masih dihadapi, terutama terkait budaya rasa malu. Banyak perempuan yang masih enggan menjalani pemeriksaan karena takut menerima hasil positif.
“Masih ada ibu-ibu yang khawatir dan beranggapan bahwa orang tua dulu tidak pernah periksa tetapi tetap sehat,” ungkapnya. Tantangan lainnya adalah masih adanya larangan dari suami kepada istri untuk melakukan skrining.
Untuk itu, Dinkes Kota Ambon melakukan pendekatan yang lebih luas dengan melibatkan keluarga, tokoh masyarakat, dan lintas sektor.
Melalui penguatan layanan dan edukasi berkelanjutan, Dinas Kesehatan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining kanker serviks terus meningkat sehingga target eliminasi kanker leher rahim dapat tercapai. (AM-18)










