Kematian & Pemakaman: Ia meninggal pada 8 Agustus 1948 di Jakarta dan dimakamkan di Petamburan, kemudian jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Tanah Kusir bersama keluarganya.
Warisan:
Dien Tamaela dikenang sebagai bagian dari keluarga heroik yang berjuang untuk kemerdekaan, meskipun meninggal muda dan tidak memiliki keturunan.
Ia juga menjadi inspirasi puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” oleh Chairil Anwar, sebuah pengakuan atas sosoknya di kalangan seniman.
Cerita sejarah yang tak sempat di ketik adalah cerita cinta antara Chairil Anwar sang pujangga dan Dien Tamaela yang kisah cinta mereka terhenti karena keluarga yang tidak setuju, yang akhirnya membuat Chairil menulis puisi tersebut di atas.
Dien tidak punya karya besar seperti adiknya. Akan tetapi, jemari tangan Dien Tamaela menekan tuts-tuts piano mengiring nyanyian pemudi pemudi pemberani dari Maluku.
”Cerita Buat Dien Tamaela”
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau……
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.










