“Dia tahu benar, para personel departemen keuangan harus jungkir balik mengumpulkan dana. Dia memutuskan untuk menyewa sendiri dan membagi satu kamar dengan seorang rekan. Jaman sekarang mana ada menteri yang kos sekamar berdua demi mengirit pengeluaran?” tulis Basri dan Munandar.


Ketika ditugaskan menjadi delegasi Indonesia untuk berunding dengan Belanda dalam rangka persiapan menuju perundingan Renville, Leimena meminjam jas teman sekamarnya. Meskipun agak kekecilan, dia bisa bertahan beberapa Jam. “Jangan khawatir. Saya tidak akan bikin malu negara kita,” ucap Jo, mengutip tulisan Andri Setiawan.
Leimena tidak pernah mencari hiburan ke luar rumah. Pulang kantor, ia berganti pakaian, hanya mengenakan sarung dan kaus atau kemeja using, lalu bercengkerama dengan keluarganya. Hari-hari libur juga dihabiskannya bersama keluarga.
Keprihatinan Leimena atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa, merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung.

Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Setelah lulus studi kedokteran STOVIA, Leimena terus mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk pada tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.










