BeritaDaerahFEATURENasionalUtama

Bacarita Sejarah Nyong Ambon mijn dominee Bung Karno hingga Dirikan GMKI

7
×

Bacarita Sejarah Nyong Ambon mijn dominee Bung Karno hingga Dirikan GMKI

Sebarkan artikel ini
Johannes Leimena (paling kanan) diantara Presiden RI pertama Bung Karno dan Soeharto - web

Om Jo sapaanya

Pasca Peristiwa Lengkong 1946, Sukarno begitu terpukul dengan banyaknya perwira muda dan taruna yang gugur. Di rumah sakit Tangerang, seorang dokter memberinya obat dan memijit Sukarno hingga tertidur. Sejak itu, mereka menjadi dekat seperti sahabat lama. Dokter itu adalah Johannes Leimena, nyong Ambon yang akrab disapa Jo.

Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Sejak usia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia bersekolah di Ambonsche Burgerschool, tempat pamannya menjadi kepala sekolah. Ketika pamannya pindah tugas ke Cimahi pada 1914, dia turut serta. Ibunya tak mengijinkan, dia nekat menyelinap ke dalam kapal.

Jo muda bergabung dalam Jong Ambon dan aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1922, dia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra). Setelah bekerja sebagai dokter selama sebelas tahun, dia memperdalam penyakit dalam di Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran).

Baca Juga  Rere (AJI): Isu Lingkungan dan Masyarakat Adat Masih Kurang Dilirik Media Ambon

Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir mengangkat Leimena menjadi menteri muda kesehatan, belum sebagai menteri penuh. Baru pada kabinet Amir Sjarifuddin, dia diangkat menjadi menteri penuh.

Leimena yang Sederhana

Leimena sangat terkenal akan kesederhanaan, kejujuran, dan kelembutannya. “Jo ternyata sama dengan Natsir, yakni sama-sama hanya punya 2 kemeja yang dua-duanya sudah lusuh,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar dalam Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan dan Kesederhanaan Tokoh Bangsa. Buku ini diluncurkan pada 13 Agustus 2019 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat.

Karena tidak punya tabungan, Leimena juga harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di Jakarta. Ketika di Yogyakarta, dia enggan menggunakan fasilitas negara dengan tinggal di Hotel Merdeka yang semua akomodasinya ditanggung negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *