“Perdamaian harus dijaga bersama. Peran masyarakat sipil, akademisi, dan organisasi sosial sangat penting dalam membangun ruang dialog serta memperkuat kepercayaan publik,” ungkapnya dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Basyir Tuhepaly menyambut baik diskusi tersebut. Ia menilai buku yang ditulis Kapolresta bukan hanya menjadi dokumentasi pengalaman institusi kepolisian, tetapi juga dapat menjadi referensi penting bagi para aktivis, akademisi, serta pemangku kepentingan dalam memahami dinamika penanganan konflik sosial di Ambon dan wilayah sekitarnya.
Pertemuan yang berlangsung dalam semangat bacarita tradisi berdiskusi khas Maluku itu juga menjadi ruang berbagi gagasan tentang pentingnya membangun budaya dialog, literasi, serta kolaborasi lintas sektor demi menjaga stabilitas dan kedamaian di Kota Ambon.
Diskusi tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan kemitraan antara aparat keamanan dan masyarakat sipil, sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru dalam merawat perdamaian di Maluku. ***










