Hal lain yang menjadi faktor dominan adalah hilangnya champion mentality (mental juara). Jika ini hilang dari jiwa atlet, maka seabrek persiapan pun akan percuma.
Membangun mental juara memang bukan hal yang muda. Karekter ini tak bisa diharapkan langsung datang begitu saja kepada setiap individu atlet. Dia harus dibangun secara kolektif oleh sekumpulan orang yang memiliki visi besar dan mindset yang sama.
Sekiranya kondisi inilah yang mulai dibangun oleh KONI Maluku. Lewat tangan dingin seorang Sam Latuconsina bersama team worknya, karakter ini mulai terlihat nyata pada performa atlet -atlet Maluku.
Tak perlu jauh -jauh melihat kemajuan itu. Simak saja performa Arwin Ibrahim, Eka Polpoke, Marfhines Rumauru Saamena, Mira Nayo Haikutty, Sifra Stien Sasabone dan yang terakhir Thomas Marsel Murehuwei.
Para atlet ini datang tanpa target. Dalam kondisi ‘Asam Padis’, karena minim jam terbang dalam kompetisi lokal dan juga persiapan yang singkat, tapi akhirnya mereka menjadi Garang di arena tanding.
Benar adanya, mereka menemukan support system yang tepat. Itu semua jika dilihat dari alasan kenapa mereka hadir di PON Beladiri 2025.
“Yang penting kita bisa berpartisipasi, bukan soal target prestasi,” sekiranya itu pesan besar yang didorong Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa ketika bertemu pengurus KONI Maluku membahas soal PON Beladiri.










