Inilah modal besar yang tidak dimiliki oleh banyak kota lain.
Transformasi menuju learning society harus dimulai dari ruang publik. Perpustakaan modern, ruang diskusi warga, pusat kreatif anak muda, hingga fasilitas digital yang terjangkau perlu diperkuat.
Ruang-ruang ini akan menjadi tempat lahirnya ide baru, pertemuan gagasan, dan latihan berpikir kritis.
Kota yang ingin maju harus menyediakan tempat bagi warganya untuk terus belajar.
Selain itu, dunia pendidikan formal harus ikut bertransformasi. Kurikulum perlu memadukan kecakapan global seperti literasi digital, kemampuan berkomunikasi lintas budaya, dan kreativitas dengan nilai-nilai lokal yang membangun karakter.
Pendidikan yang baik bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga mengakar. Ambon perlu generasi yang mampu membaca zaman sekaligus menghormati sejarah.
Komunitas-komunitas lokal pun tidak boleh dikesampingkan. Sanggar musik, kelompok literasi, riset kelautan, komunitas pemuda gereja dan masjid, hingga organisasi perempuan harus diberi ruang dan dukungan.
Komunitas adalah pusat energi sosial yang mampu menjaga identitas budaya sambil mendorong pembelajaran yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah Kota Ambon memiliki peran besar sebagai penggerak utama. Kebijakan publik harus memfasilitasi pertumbuhan ekosistem belajar.










