Di tengah menguatnya isu-isu lingkungan di Maluku, peran media kembali menjadi sorotan.Sebagian kalangan menilai media kurang berpihak pada para aktivis lingkungan, namun Jurnalis Senior, Yani Kubangun memberikan pandangan berbeda.
Ia menegaskan bahwa persoalannya bukan pada keberpihakan, melainkan pada keterbatasan akses dan komunikasi.
“Sebenarnya bukan media itu tidak berpihak kepada para aktivis lingkungan, hanya akses media itu terbatas,” ujarnya. Ia mengakui, dalam praktiknya masih ada wartawan yang kurang aktif mencari sumber dari kalangan aktivis lingkungan.
“Kadang wartawan malas untuk cari sumber dari aktivis lingkungan, jadi sebenarnya komunikasi itu yang belum terbangun dengan baik,” katanya.
Menurut Kubangun, solusi terbaik adalah membangun ruang bersama antara jurnalis dan aktivis lingkungan, jika ada komunitas yang mempertemukan keduanya, maka isu-isu lingkungan bisa dibagikan, didiskusikan, dan diangkat menjadi berita yang lebih luas.
“Kalau ada komunitas di mana ada aktivis lingkungan lalu ada media di situ kan bagus. Isu-isu lingkungan bisa sharing di situ, bisa dijadikan berita. Saya rasa bagus, dan saya setuju,” tegas Pemred Ameks.fajar.co.id ini.
Ia juga menekankan bahwa media pada dasarnya mendukung langkah para aktivis, terutama ketika menyangkut perlindungan kawasan yang dilindungi dari kepentingan developer atau pihak-pihak yang ingin masuk dan melakukan aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.










