TOKOH unik yang menjadi jembatan budaya antar-pulau. Salah satu sosok luar biasa tersebut adalah Muhammad Padang (1914–1965). Meski lahir di tanah Maluku, ia membawa darah pejuang dari ranah Minang, membuktikan bahwa dedikasi untuk bangsa melampaui batas geografis.
Berikut adalah rekam jejak perjalanan hidup Muhammad Padang, dari akar sejarah di Koto Anau hingga menjadi pucuk pimpinan di Maluku.
Jejak Sang Kakek: Dari Koto Anau ke Pengasingan Saparua
Nama belakang “Padang” yang ia sandang bukanlah sekadar identitas kota asal, melainkan sebuah simbol perjuangan.
Beliau merupakan cucu dari Pakih Haji Nurdin gelar Pusako Baginda Bungsu, seorang tokoh kunci dalam Perang Padri di Koto Anau, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Akibat perlawanannya yang gigih terhadap penjajah Belanda, Pakih Haji Nurdin ditangkap dan diasingkan ke Pulau Saparua, Maluku, pada tahun 1881. Di tempat pengasingan inilah ia menetap, menikah, dan memulai garis keturunan marga “Padang” di Maluku.
Muhammad Padang pun lahir di Sirisori Islam, Saparua, mewarisi semangat juang sang kakek.
Aktivis Revolusi: Berjuang dari Ambon hingga Surabaya
Pendidikan dasarnya ditempuh di Saparua dan pendidikan menengah di Ambon. Namun, jiwa aktivisnya membara saat ia merantau ke Jawa. Muhammad Padang tercatat sebagai penggerak dalam badan perjuangan seperti: API-Ambon (Angkatan Pemuda Indonesia), PRI-Ambon (Pemuda Republik Indonesia).










